Tri Adhianto: Wakil Wali Kota Bekasi yang Menunda Kuliah untuk Meringankan Beban Orangtua

Tri Adhianto Tjahyono bercerita kepada Warta Kota soal masa kecilnya yang sederhana namun menyenangkan.

Penulis: Rangga Baskoro
Editor: AC Pinkan Ulaan
Istimewa/Kota Bekasi
Wakil Wali Kota Bekasi periode 2018 - 2023, Tri Adhianto Tjahyono. 

WARTA KOTA WIKI -- Tri Adhianto Tjahyono adalah Wakil Wali Kota Bekasi untuk periode 2018-2023, setelah terpilih dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2018: Kota Bekasi.

Dalam pesta demokarasi bagi warga Kota Bekasi itu, Tri Adhianto digandeng oleh Rahmat Effendi, yang mencalonkan diri kembali sebagai Wali Kota Bekasi.

Pasangan ini didukung oleh Partai Golkar, PAN, Partai Demokrat, PPP, Partai Hanura, PKB, dan PDIP.

Mereka bersaing dengan pasangan Nur Suprianto dan Adhy Firdaus, yang didukung PKS dan Partai Gerindra.

Tahap pengambilan suara dilakukan pada 27 Juni 2018, dan setelah melalui proses penghitungan suara, KPU Kota Bekasi mengumumkan hasil rekapitulasi pada 5 Juli 2018 di mana pasangan Rahmat Effendi - Tri Adhianto meraih 697.634 suara.

Sementara pasangan Nur - Adhy memperoleh 335.900 suara.

Menurut pengumuman KPU Kota Bekasi pada saat itu, suara yang masuk sebanyak 1.057.331 tapi 23.797 di antaranya tidak sah. Dengan begitu suara yang sah sebanyak 1.033.534.

Masa kecil

Tri Adhianto lahir di Jakarta pada 3 Januari 1970, sebagai anak ketiga dari 6 anak pasangan G Soeprapto dan Endang Sri Guntur Hudiani.

Tri memiliki 2 kakak perempuan dan tiga adik perempuan, dan merupakan satu-satunya anak lelaki di keluarga tersebut.

Masa kecil dilaluinya di kawasan Karet, Tanahabang, Jakarta Pusat, Mentengatas, Tebet, Jakarta Selatan, dan Bekasi, Jawa Barat.

"Saya tinggal di lingkungan perumahan kampung di Jakarta, rumahnya petak. Sempat waktu itu kita ikut sama Bude sebelum bisa beli rumah, rumah itu pun kayak kontrakan gitu, ada tiga kamar dijadiin saru, karena kita tuh enam bersaudara, saya sendirian laki-laki anak ketig. Sehingga orang tua saya bilang 'kamu punya tanggung jawab lebih, karena kamu laki-laki, jadi kamu harus jadi orang yang berhasil' itu yang selalu terngiang dalam benak saya," katanya kepada Warta Kota.

Ayah Tri berprofesi sebagai guru pelajaran Biologi. Meski berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS), tapi gajinya tergolong pas-pasan karena untuk menghidupi keluarga dengan 6 orang anak.

Karena itu sang ayah selalu berpesan kepada anak-anaknya untuk bersekolah di sekolah negeri, yang uang sekolahnya murah.

Pesan ini diingat terus oleh Tri, sehingga dia selalu berusaha agar bisa diterima di sekolah negeri.

"Perjalanan sejak, SD saya dimotivasi untuk selalu masuk ke sekolah negeri, karena kan biayanya murah," tutur Tri.

Tri lulus dari SMAN 3 pada tahun 1989, namun dia tak langsung kuliah karena ingin meringankan beban ekonomi keluarga dulu.

Ketika itu dua kakaknya telah kuliah di universitas swasta, sehingga agak berat bagi keluarganya bila Tri juga kuliah di universitas swasta pada tahun itu.

Apalagi orangtuanya juga harus membiayai sekolah ketiga adiknya.

"Dua orang kakak saya sudah kuliah di swasta, tentunya enggak mungkin saya swasta lagi. Kakak pertama di Universitas Atmajaya (jurusan) Psikologi, kakak kedua di UNAS ngambil (jurusan) Biologi. Akhirnya saya menganggur setahun karena masalah keuangan karena Bapak belum bisa membiayai saya kuliah," ujar Tri.

Ikuti kami di
KOMENTAR
1182 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved