Pakar Vaksin Inggris Ingatkan Pemberian Dosis Booster Terus-menerus Tidak Tepat

Saat Indonesia baru berencana memberikan dosis booster, beberapa negara sudah berencana memberikan vaksin dosis keempat.

Penulis: AC Pinkan Ulaan
Editor: AC Pinkan Ulaan
Warta Kota/Bayu Indra Permana
Pakar vaksin di Inggris berpendapat bahwa vaksin dosis booster harusnya diberika kepada orang yang berisiko tinggi Covid-19. Keterangan foto: (ilustrasi) Wajah Reza Rahadian tampak tegang sekaligus memelas menjelang diinjeksikan vaksin Covid-19, karena dia memang takut jarum suntik. 

WARTA KOTA -- Pandemi Covid-19 belum selesai juga meski sudah memasuki tahun ketiga.
Hal ini disebabkan munculnya varian-varian baru yang membuat pandemi ini berkepanjangan.

Selama ini upaya melindungi masyarakat dari tertular varian baru untuk mencegah meningkatnya jumlah pasien, adalah memberikan vaksinasi Covid-19 ketiga, atau sering disebut booster.

Hanya saja, seorang ahli vaksinasi di Inggris mengatakan bahwa pemberian vaksinasi booster setiap muncul varian baru bukanlah tindakan yang tepat dalam jangka panjang.

Sebagaimana dilansir Daily Mail, Sir Andrew Pollard, ketua dari Joint Committee on Vaccination and Immunisation (JCVI), mengatakan bahwa pemberian vaksinasi booster setiap 6 bulan sekali bukanlah sebuah langkah yang bisa diteruskan.

Katanya, vaksinasi sebaiknya diberikan kepada target yang paling rentan tertular, bukan ke semua orang berusia 12 tahun ke atas.

Pernyataan Pollard ini untuk menanggapi kebijakan beberapan negara yang akan memberikan booster kedua, atau vaksinasi Covid-19 keempat.

Ya, selagi Pemerintah Indonesia baru berencana memberikan booster mulai 12 Januari besok, Jerman dan Israel sudah membicarakan pemberian booster kedua.

Menurut Daily Mail, Menteri Kesehatan Jerman menyiratkan perlunya booster kedua untuk mengendalikan Omicron.

Sementara Pemerintah Israel telah menyetujui pemberian dosis keempat bagi lansia, atau warga berusia 60 trahun ke atas.

Sementara Inggris diberitakan sudah memesan 114 juta vaksin Pfizer dan Moderna, yang akan datang sepanjang 2 tahun ke depan.

Namun Daily Mail belum mendapat informasi rencana penggunaan vaksin tersebut.

Mahal

Pollard sendiri memiliki alasan untuk pendapatnya itu, yakni memberikan vaksinasi Covid-19 setiap enam bulan sekali itu sangat mahal dan belum tentu efisien.

Menurut Pollard, masih banyak negara yang kesulitan memberikan vaksin Covid-19 dosis pertama bagi warganya, namun negara-negara maju malah berpikir memberikan vaksinasi keempat.

"Sebaiknya booster diberikan kepada mereka yang berisiko tinggi. Namun dibutuhkan lebih banyak data untuk mengetahui kapan dan berapa sering orang-orang berisiko tinggi ini membutuhkan dosis tambahan," katanya.

Pollard adalah ahli vaksin yang turut mengembangkan vaksin Covid-19 AstraZeneca.

Dia optimistis vaksin buatannya mampu meningkatkan antibodi penerimanya dalam menghadapi varian-varian baru, termasuk varian Omicron yang sedang "mengamuk" di Inggris saat ini.

Vaksin alami

Ide memberikan vaksinaksi keempat juga dipertanyakan pakar kesehatan lainnya, karena mereka melihat situasi Omicron saat ini adalah bagian dari proses Covid-19 menjadi endemik, atau berangsur-angsur tidak berbahaya lagi.

Professor Ian Jones, seorang virolog dari University of Reading, bahkan mengatakn bahwa varian Omicron adalah "vaksin alami" untuk Covid-19.

Varian ini memiliki tingkat penularan sangat tinggi, namun menyebabkan gejala yang ringan. Dengan begitu varian ini bisa memberi penguatan kepada antibodi tubuh secara alami tanpa menyebabkan sakit yang parah.

Ikuti kami di
KOMENTAR
1220 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Poltak Tulus
2022-01-05 16:14:22
qwertyuiop

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved