Kementerian Kesehatan Sinergikan Pusat dan Daerah dalam Mengendalikan Varian Omicron

Kementerian Kesehatan mengeluarkan surat edaran untuk mengendalikan penyebaran Covid-19 varian Omicron.

Editor: AC Pinkan Ulaan
Pixabay/geralt
Kementerian Kesehatan menerbitkan SE Nomor HK.02.01/MENKES/1391/2021, sebagai upaya mengendalikan penyebaran varian Omicron. Keterangan foto: Ilustrasi virus SARS-CoV-2. 

WARTA KOTA -- Semakin banyaknya kasus Covid-19 varian Omicron di Indonesia membuat Kementerian Kesehatan mengeluarkan surat edaran, sebagai upaya pengendalian wabah varian Omicron ini.

Sebagaimana dilansir laman Kementerian Kesehatan, Kementerian Kesehatan menerbitkan Surat Edaran (SE) Nomor HK.02.01/MENKES/1391/2021 tentang Pencegahan dan Pengendalian Kasus COVID-19 Varian Omicron (B.1.1.529) yang ditandatangani Menteri Kesehatan pada 30 Desember 2021.

Menurut Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan dr Siti Nadia Tarmizi, aturan ini untuk memperkuat sinergisme antara Pemerintah Pusat dengan pemerintah daerah, kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan, SDM Kesehatan dan para pemangku kepentingan lainnya, sekaligus menyamakan persepsi dalam penatalaksanaaan pasien konfirmasi positif Covid-19.

Selain itu, Kemenkes juga mendorong daerah untuk memperkuat kegiatan 3T (Testing, Tracing, Treatment), aktif melakukan pemantauan apabila ditemukan klaster-klaster baru Covid-19, dan segera melaporkan dan berkoordinasi dengan Pusat apabila menemukan kasus konfirmasi Omicron di wilayahnya.

“Poin utama dari aturan ini untuk memperkuat koordinasi Pusat dan daerah serta fasyankes, dalam menghadapi ancaman penularan Omicron. Mengingat dalam beberapa waktu terakhir kasus transmisi lokal terus meningkat. Karenanya kesiapan daerah dalam merespons penyebaran Omicron sangat penting agar tidak menimbulkan cluster baru penularan Covid-19,” tutur dr Nadia.

Disiplin individu

Selain kesiapan dari segi sarana dan prasarana kesehatan, dr Nadia kembali menekankan bahwa kewaspadaan individu harus terus ditingkatkan, untuk menghindari potensi penularan Omicron.

Protokol kesehatan 5M dan vaksinasi harus berjalan beriringan sebagai kunci untuk melindungi diri dan orang sekitar dari penularan Omicron.

Perjalanan luar negeri

Menurut dr Siti Nadia Tarmizi, penambahan kasus konfirmasi Omicron di Indonesia masih didominasi oleh WNI yang baru kembali dari perjalanan luar negeri.

Berdasarkan pemutakhiran data kasus konfirmasi Omicron, Kemenkes mencatat ada 92 kasus konfirmasi baru pada 4 Januari 2021.

Kini total kasus Omicron menjadi 254 kasus, terdiri dari 239 kasus dari pelaku perjalanan internasional (imported case) dan 15 kasus transmisi lokal.

“Mayoritas (penularan) masih didominasi pelaku perjalanan luar negeri. Dari hasil pemantauan, sebagian besar kondisinya ringan dan tanpa gejala. Gejala paling banyak adalah batuk (49 persen) dan pilek (27 persen),” kata dr Nadia.

Omicron diketahui memiliki tingkat penularan yang jauh lebih cepat dibandingkan varian Delta.

Sejak ditemukan pertama kali pada 24 November 2021 di Afrika Selatan, kini Omicron telah terdeteksi di lebih dari 110 negara, dan diperkirakan akan terus meluas.

Di level nasional, pergerakan Omicron juga terus meningkat sejak pertama kali dikonfirmasi pada 16 Desember 2021. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR
1222 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved